KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tak henti kami
panjatkan kepada Allah SWT atas apa yang telah di berikan kepada kami
hambanya yang tak berdaya ini dan tak lupa salawat beriring salam kepada
nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan kepada
alam yang penuh ilmu pengetahuan .
Sebelum memulai membahas sedikit ilmu yang kami ketahui tentang SEMEN
,hasil diskusi dan kerja kelompok kami ingin berterima kasih kepada
dosen yang kami hormati dan para teman sekalian atas kesempatan yang
telah diberikan.
Tujuan kami membahas tentang SEMEN
ini adalah tak lain dan tak bukan adalah tugas kelompok yang di
tugaskan oleh dosen kami yang kami hormati. Dengan harapan dapat
menambah pengetahuan pada salah satu proses produksi semen.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan
pembahasan tentang semen ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
sangat diharapkan kritik, saran dan masukan-masukan yang dapat membangun
demi kesmpurnaan pembahasan ini.
Semoga pembahasan ini dapat bermanfaat
untuk semua pihak khususnya kami dan teman-teman. Amin. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Semen adalah suatu campuran senyawa kimia
yang bersifat hidrolisis, artinya jika di campur dengan air dalam
jumlah tertentu akan mengikat bahan-bahan lain menjadi satu kesatuan
masa yang dapat memadat dan mengeras. Secara umum semen dapat
didefinisikan sebagai bahan perekat yang dapat merekatkan bagian-bagian
benda padat menjadi bentuk kuat, kompak dan keras.
1.2 Sejarah dan perkembangan semen
Semen pada awalnya dikenal di mesir tahun
500 SM pada pembuatan piramida, yaitu sebagai pengisi ruang kosong
diantara celah-celah tumpukan batu. Semen yang dibuat bangsa Mesir
merupakan kalsinasi gypsum yang tidak murni, sedangkan kalsinasi batu
kapur mulai digunakan pada zaman romawi. Kemudian bangsa yunani membuat
semen dengan cara mengambil tanah vulkanik ( vulkanik tuff ) yang
berasal dari pulau santoris yang kemudian dikenal dengan santoris
cement. Bangsa Romawi menggunakan semen yang diambil dari material
vulkanik yang ada di pegunungan Vesuvius dilembah naples yang kemudian
dikenal dengan nama pozzulan cement, yang diambil dari sebuah nama kota
italia yaitu pozzuola.
Penemuan bangsa Yunani dan Romawi ini
mengalami perkembangan lebih lanjut mengenai komposisi bahan dan cara
pencampuarannya sehingga diperoleh moltar yang baik. Pada tahun 1756
Jhon smeaton seorang sarjan inggris berhasil melakukan penyelidikan
terhadap batu kapur dengan pengujian ketahanan air dari hasil
percobaanya disimpulkan bahwa batu kapur lemak yang tidak murni dan
mengandung tanah liat merupakan bahan pembuat semen hidrolis yang baik.
1.3 Pabrik-pabrik sejenis di Indonesia.
- PT.Indocement Tunggal Prakarsa (Semen Tigaroda)
- PT.Semen Baturaja Persero (Semen Baturaja)
- PT.Semen Padang (Semen Padang)
- PT.Semen Gresik (Semen Gresik)
- PT.Semen Bosowa (Semen Bosowa)
- PT.Semen Andalas (Semen Andalas)
- PT.Holcim Indonesia
- PT.Semen Tonasa (Semen Tonasa)
- PT.Semen Kupang (Semen Kupang)
BAB II
PEMILIHAN PROSES
2.1 Jenis-jenis Proses
2.1.1 Proses Basah
Pada proses ini, bahan baku dipecah
kemudian dengan menambahkan air dalam jumlah tertentu serta dicampurkan
dengan luluhan tanah liat. Bubur halus dengan kadar air 25-40% (slurry) dikalsinasi dalam tungku panjang (long rotary kiln).
2.1.2 Proses Kering
Pada proses ini bahan baku diolah (dihancurkan) di dalam Raw Mill
dalam keadaan kering dan halus, dan hasil penggilingan (tepung baku)
dengan kadar air 0,5-1% dikalsinasi dalam rotari kiln. Proses ini
menggunakan panas sekitar 1500-1900 Kcal /Kg kilnker.
2.2 Perbandingan Proses
Nama proses
|
Perbandingan proses
|
Keuntungan
|
Kerugian
|
Proses basah
|
Keuntungan yang didapat pada proses ini
diantaranya adalah umpan yang didapat lebih homogen, sehingga semen yang
dihasilkan juga lebih baik, tidak dipengaruhi oleh fluktuasi kadar air,
serta debu yang dihasilkan relatif sedikit. |
Kerugian yang didapat pada proses ini
diantaranya adalah penggunaan bahan bakar yang lebih banyak dan
membutuhkan air yang cukup banyak, tanur yang digunakan terlalu panjang
karena memerlukan zone dehidrasi yang lebih panjang untuk mengendalikan
kadar air, serta biaya produksi yang lebih mahal. |
Proses kering
|
Keuntungan yang didapat pada proses ini
diantaranya ialah tanur yang digunakan terlalu pendek, pemakaian bahan
bakar yang relatif lebih sedikit dan efisien dan membutuhkan air yang
relatif lebih sedikit pula, serta kapasitas produksi yang lebih besar. |
Kerugian yang terdapat pada proses ini
diantaranya adalah campuran umpan kurang homogen dibandingkan dengan
pada proses basah sehingga mutu semen yang dihasilkan kurang baik,serta
banyak menimbulkan debu yang dihasilkan sehingga dibutuhkan alat
penangkap debu. |
2. 3 Pemilihan Proses
2.3.1 Proses Basah
Proses Basah Proses ini dimulai dengan
mencampur semua bahan baku dengan air. Setelah itu dihancurkan.
Kemudian bahan yang sudah dihancukan tadi dibakar menggunakan bahan
bakar minyak. Karena membutuhkan banyak BBM, proses ini sudah jarang
dilakukan oleh produsen semen.
2.3.2 Proses kering
Proses ini memakai proses penggilingan
yang dilanjutkan dengan proses pembakaran. Ada lima tahapan dalam proses
ini, seperti proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary
dryer dan roller meal, proses pencampuran untuk mendapatkan campuran
yang homogen, proses pembakaran bahan baku untuk menghasilkan terak,
proses pendinginan terak, dan terakhir proses penggilingan clinker dan
gypsum.
BAB III
BAHAN BAKU DAN PRODUK
Bahan baku pembuatan semen terdiri dari 2
komponen yaitu bahan baku utama dan bahan tambahan. Bahan baku utama
yang digunakan adalah batu kapur (CaCO3) kemurnian 55%-60% dan tanah liat (Al2O3) kemurnian 65%-70%. Sedangkan bahan penolong yaitu: pasir silica (SiO2), pasir besi (Fe2O3) dan gypsum (CaSO4.2H2O).
3.1 Spesifikasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan
3.1.1 Bahan Baku
Bahan baku adalah suatu material dasar yang digunakan dalam menciptakan suatu produk.
3.1.1.1 Batu Kapur/Limestone (CaCO3)
Berdasarkan kandungan CaCO3-nya Batu Kapur dapat dibagi 3 kelompok, yaitu :
- Batu Kapur Kadar Tinggi (High Grade). Kandungan CaCO3 nya tinggi, lebih dari 93%, MgO maksimal 2%, bersifat rapuh, H2O maksimal 5%.
- Batu Kapur Menengah (Middle Grade). Kandungan CaCO3 88% – 92%, bersifat kurang keras.
- Batu Kapur Kadar Rendah (Low Grade). Kandungan CaCO3 85%-87%, bersifat keras.
Batu kapur yang digunakan adalah batu dengan kadar tinggi dan menengah (CaCO3 > 88%). Adapun komposisi batu kapur secara umum ditunjukkan pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.1 Komposisi Batu Kapur pada Pembuatan Semen Portland
| % CaO |
%SiO2 |
%Al2O3 |
%Fe2O3 |
%MgO |
%SO3 |
| 49 – 56 |
1,5 – 5 |
0,6 – 1,2 |
0,2 – 0,5 |
1,58 – 2 |
0,5 |
Sifat fisik batu kapur:
- Fase : Padat
- Warna : Putih
- Kadar air : 7-10%
- Bulk density : 1,3 ton/m3
- Spesifik Gravity : 2,49
- Kandungan CaO : 47-56%
- Kuat tekan : 31,6 N/mm2 (Daya tahan terhadap gaya tekan)
- Silika ratio : 2,6
- Alumina ratio : 2,57
3.1.1.2 Tanah Liat/Clay (Al2SiO7.xH2O)
Semua jenis tanah liat adalah hasil pelapukan kimia yang disebabkan adanya pengaruh air dan gas CO2
dari batuan adesit, granit dan treakti. Batu-batuan ini menjadi bagian
yang halus, tidak larut dalam air dan mengendap berlapis-lapis, lapisan
ini tertimbun tidak beraturan. Tanah liat bercampur dengan material lain
antara lain Besi Oksida, Kalium Oksida, Natrium Oksida, Phosphor
Oksida dan bahan Organik. Sifat dari tanah liat bila dipanaskan atau
dibakar akan memampat dan menjadi keras.
Adapun komposisi tanah liat yang digunakan secara umum ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.2 Komposisi Tanah Liat pada Pembuatan Semen Portland
% SiO2
|
% Al2O3
|
% Fe2O3
|
% MgO
|
| 60-65 |
17-20 |
5-10 |
1 |
Sifat fisik tanah liat:
- Fase : Padat
- Warna : Coklat Kekuningan
- Kadar air : 8-25%
- Bulk density : 1.7 ton/m3
- Spesifik Grafity : 2,36
- Silika ratio : 2.9
- Alumina ratio : 2,7
3.1.2 Bahan Penolong
Bahan tambahan yang digunakan adalah pasir besi atau copper slag, pasir silika dan Gips atau Gypsum.
3.1.2.1 Pasir silika (SiO2)
Pasir silika berfungsi sebagai pembawa oksida silica (SiO2) dengan kadar yang cukup tinggi yaitu sekitar 90-95 %. Depositnya berbentuk gunung-gunung pasir silika dan berkadar SiO2 sekitar 90 %. Semakin murni pasir silika akan semakin putih warnanya dan biasa disebut pasir kuarsa yang berkadar SiO2
mencapai 98,5 – 98 %. Warna pasir silika dipengaruhi oleh adanya
kotoran seperti Oksida Logam dan bahan Organik. Pasir silika ini
digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan semen jika kadar SiO2-nya masih rendah.
Spesifikasi pasir silika :
- Fase : padat
- Warna : coklat kemerahan
- Kadar air : 6 %
- Bulk density : 1,45 ton/m3
- Spesifik grafity : 2,37
- Silika ratio : 5,29
- Alumina ratio : 2,37
3.1.2.2 Gips/Gypsum (CaSO4.2H2O)
Gypsum ini yang pada umumnya terdapat di gunung-gunung disekitar gunung gamping (kapur) adalah bahan sediment CaSO4 yang
mengandung 2 molekul hidrat. Bahan ini ditambah setelah campuran bahan
mentah dibakar menjadi terak. Penambahan gypsum dilakukan pada
penggilingan akhir dengan perbandingan 96 : 4. Untuk pembuatan semen
gypsum yang diijinkan mempunyai kandungan CaSO4 50–60 % dan air bebas 2,8 %.
Spesifikasi gypsum :
- Fase : Padat
- Warna : Putih
- Kadar air : 10%
- Bulk density : 1,7 ton / m3
3.1.2.3 Copper slag
Copper slag merupakan produk samping
pada proses peleburan dan pemurnian tembaga dari bahan baku konsentrat
tembaga. Copper slag dihasilkan dari proses peleburan tembaga disemelter
dari hasil pengikatan besi dengan pasir silika dan batu gamping yang
ditambahkan sebagai fluks untuk membentuk senyawa stabil dari
CaO-FeO-SiO2.
Komponen utama copper slag adalah Oksida Besi (FeO), Dioksida Silikon (SiO2), Oksida Kalsium (CaO) dan Oksida Alumminium(AL2O3). Copper slag mempunyai sifat fisik dan kimiawi sangat stabil.
Tabel 3.3 Komposisi Copper Slag pada Pembuatan Semen Portland
% FeO
|
% SiO2
|
% CaO
|
% Al2O3
|
Specific gravity
|
True
|
Apparent
|
45-55
|
30-38
|
3-7
|
1-5
|
3,5-3,7
|
1,0-2,1
|
Spesifikasi Kopper Slag :
- Fase : Padat
- Warna : Hitam
- Bulk density : 1,8 ton/m3
Kandungan besi yang tinggi pada
copper slag menyebabkan material ini mempunyai densitas yang tinggi dan
juga berat jenis yang lebih tinggi dibandingkan pasir alam. Sebagai
pengganti pasir besi alam, copper slag mempunyai keunggulan-keunggulan
di bandingkan pasir besi alam, yaitu:
- Tidak terpengaruh cuaca
- Suplai yang stabil
- Kwalitas yang stabil
- Mengurangi kebutuhan energy
- Harga yang lebih terjangkau
3.2 Spesifikasi Produk
3.2.1 Sement Portland
Semen portland diklasifikasikan dalam lima tipe yaitu :
1. Tipe I (Ordinary Portland Cement)
Semen Portland untuk penggunaan umum yang
tidak memerlukan persyaratn khusus seperti yang dipersyaratkan pada
tipe-tipe lain. Tipe semen ini paling banyak diproduksi dan banyak
dipasaran
2. Tipe II (Moderate sulfat resistance)
Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat atau panas hidrasi sedang. Tipe
II ini mempunyai panas hidrasi yang lebih rendah dibanding semen
Portland Tipe I. Pada daerah–daerah tertentu dimana suhu agak tinggi,
maka untuk mengurangi penggunaan air selama pengeringan agar tidak
terjadiSrinkege (penyusutan) yang besar perlu ditambahkan sifat moderat“Heat of hydration”. Semen
Portland tipe II ini disarankan untuk dipakai pada bangunan seperti
bendungan, dermaga dan landasan berat yang ditandai adanya kolom-kolom
dan dimana proses hidrasi rendah juga merupakan pertimbangan utama.
3. Tipe III (High Early Strength)
Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan yang tinggi pada tahap permulaan setelah pengikatan terjadi.Semen tipe III ini dibuat dengan kehalusan yang tinggi blaine biasa mencapai 5000 cm2/gr
dengan nilai C3S nya juga tinggi. Beton yang dibuat dengan menggunakan
semen Portland tipe III ini dalam waktu 24 jam dapat mencapai kekuatan
yang sama dengan kekuatan yang dicapai semen Portland tipe I pada umur 3
hari, dan dalam umur 7 hari semen Portland tipe III ini kekuatannya
menyamai beton dengan menggunakan semen portlan tipe I pada umur 28 hari
4. Tipe IV (Low Heat Of Hydration)
Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi rendah. Penggunaan
semen ini banyak ditujukan untuk struktur Concrette (beton) yang
massive dan dengan volume yang besar, seprti bendungan, dam, lapangan
udara. Dimana kenaikan temperatur dari panas yang dihasilkan selama
periode pengerasan diusahakan seminimal mungkin sehingga tidak terjadi
pengembangan volume beton yang bisa menimbulkan cracking (retak).
Pengembangan kuat tekan (strength) dari semen jenis ini juga sangat
lambat jika dibanding semen portland tipe I.
5 Tipe V (Sulfat Resistance Cement)
Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat. Semen
jenis ini cocok digunakan untuk pembuatan beton pada daerah yang tanah
dan airnya mempunyai kandungan garam sulfat tinggi seperti : air laut,
daerah tambang, air payau dsb.
3.2.2 Water Proofed Cement
Water proofed cement adalah campuran yang homogen antara semen Portland dengan “Water proofing agent”,
dalam jumlah yang kecil seperti : Calcium, Aluminium, atau logam
stearat lainnya.Semen ini banyak dipakai untuk konstruksi beton yang
berfungsi menahan tekanan hidrostatis, misalnya tangki penyimpanan
cairan kimia.
3.2.3 White Cement (Semen Putih)
Semen putih dibuat umtuk tujuan
dekoratif, bukan untuk tujuan konstruktif. Pembuatan semen ini
membutuhkan persyaratan bahan baku dan proses pembuatan yang khusus,
seperti misalnya bahan mentahnya mengandung oksida besi dan oksida manganese yang sangat rendah (dibawah 1 %).
3.2.4 High Alumina Cement
High Alumina cement dapat menghasilkan
beton dengan kecepatan pengersan yang cepat dan tahan terhadap serangan
sulfat, asam akan tetapi tidak tahan terhadap serangan alkali. Semen
tahan api juga dibuat dari High Alumina Cement, semen ini juga mempunyai
kecepatan pengerasan awal yang lebih baik dari semen Portland tipe III.
Bahan baku semen ini terbuat dari batu kapur dan bauxite, sedangkan penggunaannya adalah antara lain :
- Rafractory Concrette
- Heat resistance concrete
- Corrosion resistance concrete
3.2.5 Semen Anti Bakteri
Semen anti bakteri adalah campuran yang homogen antara semen Portland dengan “anti bacterial agent” seperti germicide. Bahan tersebut ditambahkan pada semen Portland untuk “Self Desinfectant” beton
terhadap serangan bakteri dan jamur yang tumbuh. Sedangkan sifat-sifat
kimia dan fisiknya hampir sama dengan semen Portland tipe I. Penggunaan
semen anti bakteri antara lain :
- Kamar mandi
- Kolam-kolam
- Lantai industri makanan
- Keramik
- Bangunan dimana terdapat jamur pathogenic dan bakteri
3.2.6 Oil Well Cement
Oil well cement adalah semen Portland semen yang dicampur dengan bahan retarder khusus seperti asam borat, casein, lignin, gula atau organic hidroxid acid.
Fungsi dari retarder disini adalah untuk mengurangi kecepatan
pengerasan semen, sehingga adukan dapat dipompakan kedalam sumur minyak
atau gas. Pada kedalaman 1800 sampai dengan 4900 meter tekanan dan suhu
didasar sumur minyak atau adalah tinggi. Karena pengentalan dan
pengerasan semen itu dipercepat oleh kenaikan temperature dan tekanan,
maka semen yang mengental dan mengeras secara normal tidak dapat
digunakan pada pengeboran sumur yang dalam. Semen ini masih dibedakan
lagi menjadi beberapa kelas sesuai denganAPI Spesification 10 1986, yaitu;
KELAS A
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila sifat-sifat khusus tidak dipersyaratkan |
KELAS B
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila kondisi membutuhkan tahan terhadap sulfat sedang |
KELAS C
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila kondisi membutuhkan sifat kekuatan tekan awal yang tinggi |
KELAS D
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 sampai 3050 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang sedang |
KELAS E
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 3050 sampai 4270 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang tinggi |
KELAS F
|
Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 3050 sampai 4880 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang tinggi |
KELAS G
|
Digunakan untuk cementing mulai surface casing sampai dengan kedalaman 2440 meter, akan tetapi dengan penambahan accelerator atau retarder. Dapat digunakan untuk semua range pemakaian, mulai dari kelas A sampai kelas E |
3.2.7 Blended Cement (Semen Campur)
Semen campur dibuat karena dibutuhkannya
sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh semen portland. Untuk
mendapatkan sifat khusus tersebut diperlukan material lain sebagai
pencampur.Jenis semen campur:
1. Semen Portland Pozzolan (SPP)
Semen Portland pozzolan (SPP) atau
dikenal juga sebagai Portland Pozzolan Cement (PPC) adalah merupakan
semen hidrolisis yang terdiri dari campuran yang homogen antara semen
Portland dengan bahan pozzolan (Trass atau Fly Ash) halus, yang
diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan bahan pozzolan
bersama-sama atau mencampur secara merata semen Portland dan bahan
pozzolon atau gabungan antara menggiling dan mencampur.
2. Portland Blast Furnace Slag Cement
Portland Blast Furnace Slag Cement adalah semen Portland yang dicampur dengan kerak dapur tinggi secara
homogen dengan cara mencampur bubuk halus semen Portland dengan bubuk
halus slag atau menggiling bersama antara klinker porland dengan butiran
slag. Activitas slag (Slag Activity) bertambah dengan bertambahnya
ratio CaO + MgO/SiO2 + Al2O3 dan glass
content. Tetapi biasanyan keberadaan ratio oksida dan glass Content
tersebut saling berkebalikan. Beberapa sifat slag semen adalah sabagai
berikut :
- Jika kehalusannya cukup, mempunyai kekuatan tekan yang sama dengan semen portland.
- Betonnya lebih stabil dari pada beton semen portland
- Mempunyai permebility yang rendah
3. Semen Masonry
Semen masonry pertama kali diperkenalkan
di USA, kemudian berkembang kebeberapa negara.Secara tradisional
plesteran untuk bangunan umumnya menggunakan kapur padam, kemudian
meningkat dengan dipakainya semen portland yang dicampur dengan kapur
padam. Namun karena dianggap kurang praktis maka diperkanalkan Semen Masonry .
4. Portland Composite Cement (Semen Portland Campur)PCC -SPC
Menurut SNI 17064-2004, Semen Portland
Campur adalah Bahan pengikat hidrolisis hasil penggilingan bersama sama
terak (clinker) semen portland dan gibs dengan satu atau lebih bahan
anorganik, atau hasil pencampuran antara bubuk semen portland dengan
bubuk bahan bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara lain
terak tanur tinggi (blastfurnace slag), pozzoland, senyawa silika, batu
kapur, dengan kadar total bahan anorganik 6 – 35 % dari massa
semen portland composite. Menurut Standard Eropa EN 197-1 Portland
Composite Cement atau Semen Portland Campur dibagi menjadi 2 Type
berdasarkan jumlah Aditive material aktif.
- 1. Type II/A-M mengandung 6 – 20 % aditif
- 2. Type II/B-M mengandung 21 – 35 % aditif
Kalau pada Portland Pozzolan Cement
(Semen Portland Pozzolan) aditif yang digunakan hanya 1 jenis maka pada
Portland Composite Cement ini aditif yang digunakan lebih dari 1 jenis
atau 2 jenis maka semen ini dikelompokkan pada TERNARY CEMENT.
BAB IV
URAIAN PROSES
4.1 Proses Penyiapan Bahan Baku
Semua bahan baku dihancurkan sampai
menjadi bubuk halus dan dicampur sebelum memasuki proses pembakaran.
Pengeringan awal bahan baku diperlukan untuk proses penggilingan dengan
sistim kering dan sebelum dilanjutkan pada proses selanjutnya bahan
tersebut harus dianalisa terlebih dahulu. Analisa yang dilakukan
meliputi :
1. Analisa Kadar Air Bahan Mentah
2. Analisa kadar CaO, SiO2, Al2O3, Fe2O3 dan MgO
4.2 Proses Pembuatan Produk secara kering
4.2.1 Crusher
Crusher terdiri atas 2 macam yaitu : Limestone dan Clay cutter. Lemestone Crusher
berfungsi untuk menghancurkan batu kapur menjadi ukuran ±10 cm dari
ukuran ± 60 cm. Clay cutter berfungsi untuk memotong tanah liat menjadi
ukuran ±10 cm. Kecepatan pemotongan pada masing-masing proses mencapai
1400 ton/jam.
Produk dari Limestone Crusher
dan Clay Cutter ini dimasukkan dalam satu alat transportasi berupa Belt
Conveyor, kemudian dimasukkan ke dalam Pile storage. Dalam Satu kali
pengisian disiapkan ± 45000 ton campuran Limestone dan Clay atau disebut
Mix Limestone Clay. Material mix ini dan material koreksi yang terdiri
dari limestone high grade, silika sand dan iron sand dimasukkan dalam
satu campuran tertentu. Selanjutnya campuran tersebut dimasukan ke dalam
Raw Mill untuk diproses lebih lanjut sebagai umpan kiln.
4.2.2 Raw Mill
Raw Mill
merupakan suatu peralatan yang berfungsi untuk menghaluskan dan
mengeringkan material produk dari Crusher. Peralatan ini memakai sistem grinding table dan aliran udara panas, pengering yang berasal dari cooler dengan suhu ± 86ºC. Raw Mill mempunyai kapasitas 600 ton/jam.
Material Mix produk dari Crusher
dihaluskan dan material koreksi yang terdiri dari limestone hight
gradt, Silika sand dan Iron sand dimasukkan dalam satu campuran tertentu
kemudian dialirkan melalui Bucket ke Cooler Mill. Material produk dari
Raw Mill mempunyai kehalusan 80% lolos pada saringan 170 Mesh. Produk
ini kemudian disimpan dalam silo-silo penyimpan sebagai umpan kiln,
sedangkan material yang masih belum memenuhi standar kehalusan Raw Mill
dialirkan kembali ke Bucket untuk digiling ulang.
4.2.3 Kiln (Pembakaran)
Kiln adalah suatu unit peralatan
berbentuk tanur putar yang berfungsi untuk membakar umpan menjadi suatu
material yang disebut Clinker. Kiln menghasilkan Clinker 7500 ton/hari.
Produk kiln merupakan bahan setengah jadi yang berbentuk bulatan dengan
diameter 1-8 cm. Clinker ini merupakan senyawa kompleks yang terbentuk
dari lelehan oksida-oksida umpan pada temperatur 650 – 1400ºC. Proses
pemanasan terjadi bertahap, mulai dari penguapan kadar air, kalsinasi
sampai pada proses Clinkerisasi. Pemanasan pada kiln dimulai dengan
pemanasan awal pada cyclon (preheater) yang terdiri dari 4 stage. Stage 1
dan 2 berfungsi untuk penguapan air, stage 3 dan 4 berfungsi untuk
kalsinasi dengan temperatur 800-880ºC. Proses Clinkerisasi terjadi pada
Kiln Cell dengan temperatur 1400ºC. Selanjutnya lelehan yang keluar dari
Kiln didinginkan dalam cooler secara mendadak melalui ayakan sehingga
produk yang keluar berbentuk granular. Clinker yang dihasilkan disimpan
dalam doom (Storage Clinker).
4.2.4 Finish Mill
Finish Mill adalah suatu unit
peralatan yang berfungsi sebagai penggiling akhir. Mill yang berukuran
13 m dibagi atas dua kompartemen, yaitu kompartemen pertama sepanjang
2,5 m berisi grinding Ball (Bola-bola Baja) berdiamete 40 – 70 mm
fungsinya untuk pemecahan bahan material. kemudian material masuk ke
kompartemen kedua sepanjang 10,5 m yang berisi grinding Ball berdiameter
17 – 20 mm. Clinker bersama-sama dengan Gysum digiling dalam mill
tersebut, sehingga diperoleh semen dengan kehalusan tertentu. Produk
Finish Mill disimpan dalam silo semen dan siap untuk dipacking.
4.3 Analisa Produk
Dalam proses analisa ini bahan yang digunakan adalah produk dari finish mill:
- Analisa Kehalusan Semen (Mesh)
- Analisa Free Lime Terak dan Semen
- Analisa Normal Konsistensi
- Analisa Waktu Pengikatan Semen dengan Alat Vicat
- Analisa Pemuaian (Ekspansi)
- Analisa Kuat Tekan
- Analisa Warna dengan Colormeter
- Analisa Hilang Pijar dalam Semen ( LOI )
- Analisa Insoluble OPC dan PPC dalam Semen
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Semen terbuat dari batu kapur (CaCO3) kemurnian 55%-60% dan tanah liat (Al2O3) kemurnian 65%-70%. Sedangkan bahan penolong yaitu: pasir silica (SiO2), pasir besi (Fe2O3) dan gypsum (CaSO4.2H2O).
- Proses pruduksi semen terdiri dari dua proses yaitu proses kering dan proses basah.
- Proses yang kami gunakan pada makalah ini adalah proses kering.
- Tahapan pembuatan semen melalui proses kering meliputi proses crusher, raw mill, kiln dan finish mill.
- Semen terbagi dua yaitu semen Portland dan non Portland.
5.2 Saran
Agar kapasitas produksi semen tidak
menurun maka alat produksi harus diperhatikan kinerjanya setiap 5 tahun.
Dan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka pengontrolan terhadap
alat harus dilakukan setiap jam kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Australian standart , “ Methods for the Analisis and Testing of Coal and Cake “ 1994.
Parray E Kurt , “ Cement Manufacture Hand Book “ chemical publishing co inc , NewYork , 1979 .
Pwerry Robert H , Perry Chemical Engineer “ s Hand Book “ , 6 th edition , Mc Graw-Hill , New York . 1984
Shreve , “ Chemical proses Industries “, 3 rd edition , Mc Graw – Hill , New York , 1967
Watson W , “ Carddock Q . L , “ Cement Chemist and wowks Manager “ s Hand Book”. 2 nd edition , concrete Publication Limited , London .
———– , “ Tekhnologi Semen “ , Pusat pendidikan dan pelatihan PT . Semen Gresik ,1983 .
http://id.shvoong.com/
http://cheeng09.blog.com/2012/01/24/proses-produksi-semen/ ( diakses 03 Januari 2016 )
===>Semoga bermanfaat dan menjadi bahan yang dapat dijadikan referensi<==
===>Kritik dan Saran pasti akan sangat membantu<==